Prof. Dr. Mikihiro Moriyama, Guru Besar Jepang Fasih Bahasa Sunda Berbagi di Cianjur

1349154093251761539

Hari ini, Sabtu 24 Desember 2011,  kang Miki panggilan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama, seorang sarjana bahasa dan sastra Sunda  yang mendapat gelar profésor dalam bidang bahasa Indonesia   di Universitas Nanzan, Jepang, akan menjadi narasumber utama Seminar Internasional III Bahasa dan Sastra Daerah/Sunda di Pascasarjana S2 BI Universitas Suryakancana Cianjur. Rencananya, akan dihadiri oleh mahasiswa magister program studi bahasa dan sastra Indonesia, alumni,  dan sejumlah dosen setempat.

Kang Miki, lahir di Kyoto  Jepang, tanggal 16 September 1960.  Ia begitu tertarik dengan bahasa Sunda saat berkenalan dengan Pak Ajip Rosidi saat bermukim di Jepang.  Beliau  amat terkesan atas sikap konsisten dan kebanggaan Pak Ajip dalam menggunakan bahasa Sunda meskipun di mancanegara. Begitulah kisah tentang “pandangan pertama” saat kang Miki terpikat terhadap bahasa Sunda dalam ngobrol singkat bersama penulis dan kawan-kawan di ruang dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia S2 Universitas Suryakancana petang kemarin (23/12).

Kang Miki  pergi ke Indonesia pertama kali tahun 1980 selama 1 bulan, tahun 1982-1984 belajar di Unpad Bandung, kemudian memperdalam seni Sunda seperti: maenpo, pupuh, cianjuran, kecapi, dan lain-lain di Cikalongkulon Cianjur tahun 1984.  Untuk memperdalam bahasa Sunda tanpa banyak terkontaminasi bahasa gaul atau campuran dengan bahasa Indonesia, Kang Miki sengaja memilih tinggal dalam lingkungan masyarakat tradisional  di pelosok Wanayasa Purwakarta, di mana saat itu penerangannya pun masih menggunakan lampu petromak.

Kang Miki menulis berbagai buku dan esai  mengenai budaya cetak dan modernitas juga mengenai kebijakan bahasa di Indonesia.  Beliau  menerjemahkan sastra kontemporer Indonesia termasuk karya Seno Gumira Ajidarma dan Putu Wijaya   ke dalam bahasa Jepang.

Kang Miki mengajarkan bahasa Indonesia sejak tahun 1988  di Jepang, termasuk menyusun buku pelajaran bahasa Indonesia untuk para siswa Jepang.  Perjalanan akademiknya tahun 2003 mendapat gelar doktor Kesusatraan dari Universitas Leiden, dengan disertasi A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth- Century West Java 1987 M.A Program Pascasarjana Universitas Osaka Studi Luar Negeri 1985  B.A. Departemen Bahasa Indonesia, Universitas Osaka, Studi Luar Negeri.  Kini menjabat sebagai Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan di Nanzan University Nagoya Jepang.

Kunjungan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama ke Cianjur kali ini dilakukan pasca mengikuti rangkaian kegiatan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) II yang diadakan di Gedung Merdeka Bandung,  12-14 Des 2011.  Pertemanan baik dengan Prof. Dr. Iskandarwassid, Direktur Pascasarjana S2 BI  Unsur Cianjur, guru pertama kali yang mengajarkan tata bahasa Sunda bagi Kang Miki, dan nuansa alam  Cianjur tempat bermukim Kang Miki tinggal tempo doeloe telah membangkitkan kerinduan dengan tokoh dan masyarakat Cianjur tempo hari. Sehingga selain memberi materi budaya dan sastra Sunda juga dapat dimaknai sebagai ajang silaturahim dan bernostalgia.

Kang Miki begitu piawai dan fasih menggunakan  bahasa Sunda, bahkan    mahir menggunakan bahasa Sunda yang lebih dalam. Beliau mampu menggunakan bahasa Sunda secara halus dan cermat menempatkan  undak usuk basa Sunda maupun  menempatkan kosa kata untuk pribadi, orang kedua atau orang lebih tinggi  dikenal rumit oleh penutur Sunda sekalipun  secara elegan. Hal yang membuat  kami selaku “urang Sunda” membuat “reueus” dan “tertantang” untuk lebih mencintai bahasa ibunya sendiri.

Kang Miki telah mengangkat budaya dan bahasa Sunda dalam seminar budaya dan bahasa  di mancanegara.  Beliau pernah memberi kuliah bahasa Sunda di Leiden Belanda dikenal sebagai universitas rujukan keilmuan bahasa Sunda terkemuka di luar negeri.  Selain menjadi bahan disertasi program Doktornya, Kang Miki yang murah senyum dan amat ramah ini aktif  membawakan materi tentang kesundaan di mancanegara hingga mencapai pelosok  negeri Afrika seperti negeri Mali.

Kang Miki merupakan  sumber inspirasi dan “cambuk” turut menyadarkan bagi “urang Sunda” agar lebih mencintai budaya dan bahasa sendiri. Banyak filosofi luhur yang dianut orang Sunda seperti hirup hurip, silih asih silih asah silih asuh, cageur bageur bener pinter singer, teuneung ludeung, waras, sineger tengah yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini sesungguhnya merupakan modal berharga bagi urang Sunda, khususnya dan bangsa Indonesia umumnya dalam  menghadapi era globalisasi yang berpotensi menggerus jati diri suatu bangsa.

http://bahasa.kompasiana.com

Asal-usul, Sejarah, dan Perkembangan Bahasa Sunda

Sejarah Penggunaan Bahasa Sunda

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti itu di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).
Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Dapat diperkirakan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 18. Karena lebih mudah cara menulisnya, naskah lebih panjang dari pada prasasti, sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanyapun lebih jelas.

Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:

(1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)
(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).

Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India.

Setelah itu masyarakat Sunda mengenal, lalu menganut Agama Islam, lalu menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Pada masa itu muncul karya Carita Parahiyangan.   Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda. Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.

Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.

Pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.   Konon kabar sejak abad 17 (Jautuhnya Pajajaran), di tatar Sunda menggunakan naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon.

Selain itu, tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa. Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi sosial secara nyata.

Kemudian pada Jaman Amangkurat I wilayah kekuasaan sedikit-demi sedikit diserahkan kepada Belanda.

Bahasa Sunda mulai banyak digunakan kembali pada abad ke-19. Karena Belanda pun sebelumnya menganggap Urang Sunda hanya sebagai orang Jawa gunung yang hidup didaerah barat pulau Jawa. Raffles, Gubernur jendral Inggris di Jawa mendorong untuk melakukan penelitian tentang sejarah dan kebudayaan lokal. Dalam bukunya, The History of Java, Raffles menyatakan bahasa Sunda itu adalah sebagai varian dari bahasa Jawa, bahkan ada juga yang menyebut bahasa Sunda sebagai bahasa Jawa Gunung dibagian barat.
Pada masa selanjutnya para cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah, swasta dan para penginjil menemukan sunda sebagai etnis sendiri. Pengetahuan etnografi ini sangat dibutuhkan, paling tidak untuk mempermudah komunikasi antara Belanda dengan Pribumi. Peristiwa penemuan ini ditunjang pula oleh upaya pemerintah kolonial bekerjasama dengan para Sarjana Belanda, membagi Nusantara kedalam wilayah Budaya yang berbeda-beda, antara lain Jawa, Sunda, Madura – masing-masing dengan bahasa mereka sendiri.

Belanda tentunya memiliki tujuan, karena masing-masing wilayah memiliki potensi alam yang berbeda. Seperti daerah Priangan sangat penting dari segi ekonomi, karena sebagai penghasil kopi. Belanda mendorong para elite lokal untuk menjalankan roda administrasinya sendiri, serta mendorong untuk belajar pendidikan formal. Dari sini para Bumiputra menyadari, bahwa memang ada perbedaan bahasa dan budaya diantara mereka.
Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di Sukabumi melakukan studi etnografi tentang daerah Priangan. Ia berpendapat bahwa bahasa sunda merupakan bahasa tersendiri. Cuplikan pendapatnya, sebagai berikut :
* Bahasa yang dituturkan diwilayah ini adalah bahasa sunda. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada banyak kata-kata yang pelan-pelan masuk atau diambil dari kedua bahasa yang disebut belakangan. Aksara yang dipakai para ulama adalah Arab ; banyak pemimpin lokal juga menegenal bahasa itu ; jika tidak memakai aksara itu, penduduk pada umumnya memakai aksara Jawa.
Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia mengumpulkan banyak kata-kata Sunda mengenai pertanian, adat istiadat, dan Islam. Hasil penelitiannya semakin meneguhkan bahwa Sunda adalah etnis tersendiri.
Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedangkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde.

Kemudian Roorda membuat pernyataan :
Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya sangat sedikit dan tidak sempurna ; bahasa itu dituturkan di wilayah barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu ; bahasa itu sangat bebeda dengan yang pantas disebut bahasa jawa dan juga melayu, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang asing di kepulauan Hindia Timur.

Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah. Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.

Sejak tahun 1950-an pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan “sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda terus berlanjut.

(Sumber ; Ensiklopedia   Sunda ; alam, budaya dan adat-istiadat, dan sumber-sumber internet dengan perubahan dan penyesuaian)

AKSARA SUNDA , dan asal usul orang sunda

Aksara Sunda Baku merupakan sistem penulisan hasil penyesuaian Aksara Sunda Kuna yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Saat ini Aksara Sunda Baku juga lazim disebut dengan istilah Aksara Sunda.

Latar Belakang dan Sejarah

Setidaknya sejak Abad IV masyarakat Sunda telah lama mengenal aksara untuk menuliskan bahasa yang mereka gunakan. Namun demikian pada awal masa kolonial, masyarakat Sunda dipaksa oleh penguasa dan keadaan untuk meninggalkan penggunaan Aksara Sunda Kuna yang merupakan salah satu identitas budaya Sunda. Keadaan yang berlangsung hingga masa kemerdekaan ini menyebabkan punahnya Aksara Sunda Kuna dalam tradisi tulis masyarakat Sunda.

Pada akhir Abad XIX sampai pertengahan Abad XX, para peneliti berkebangsaan asing (misalnya K. F. Holle dan C. M. Pleyte) dan bumiputra (misalnya Atja dan E. S. Ekadjati) mulai meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah tua yang menggunakan Aksara Sunda Kuna. Berdasarkan atas penelitian-penelitian sebelumnya, pada akhir Abad XX mulai timbul kesadaran akan adanya sebuah Aksara Sunda yang merupakan identitas khas masyarakat Sunda. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat menetapkan Perda No. 6 tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda yang kelak digantikan oleh Perda No. 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

Pada tanggal 21 Oktober 1997 diadakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus UNPAD Jatinangor yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Kemudian hasil rumusan lokakarya tersebut dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Dan akhirnya pada tanggal 16 Juni 1999 keluar Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bahwa hasil lokakarya serta pengkajian tim tersebut diputuskan sebagai Aksara Sunda Baku.

Saat ini Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan di kepada umum antara lain melalui beberapa acara
kebudayaan daerah yang diadakan di Bandung. Selain itu, Aksara Sunda Baku juga digunakan pada
papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda dan Kantor Dinas Pariwisata Daerah
Kota Bandung. Langkah lain juga diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Tasikmalaya yang menggunakan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan-jalan utama di kota tersebut. Namun demikian, setidaknya hingga akhir tahun 2007 Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat belum juga mewajibkan para siswa untuk mempelajari Aksara Sunda Baku sebagaimana para siswa tersebut diwajibkan untuk mempelajari Bahasa Sunda. Langkah memperkenalkan aksara daerah mungkin akan dapat lebih mencapai sasaran jika Aksara Sunda Baku dipelajari bersamaan dengan Bahasa Sunda. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Lampung dan Propinsi Jawa Tengah telah jauh-jauh hari
menyadari hal ini dengan mewajibkan para siswa Sekolah Dasar yang mempelajari bahasa daerah untuk juga mempelajari aksara daerah.

Perbandingan antara Aksara Sunda Baku dan Sunda Kuna Sebagaimana diungkapkan di atas,
Aksara Sunda Baku merupakan hasil penyesuaian Aksara Sunda Kuna yang digunakan untuk
menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Penyesuaian itu antara lain didasarkan atas pedoman sebagai berikut:
* bentuknya mengacu pada Aksara Sunda Kuna sehingga keasliannya dapat terjaga,
* bentuknya sederhana agar mudah dituliskan,
* sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata,
* ejaannya mengacu pada Bahasa Sunda mutakhir agar mudah dibaca.

Dalam pelaksanaannya, penyesuaian tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf
va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan lepepet), dan perubahan bentuk
huruf (misalnya huruf na dan ma).

Sistem penulisan aksara sunda baku

Aksara Ngalagena
1

Rarangkén Berdasarkan letak penulisannya, 14 rarangkén dikelompokkan sebagai berikut:
* rarangkén di atas huruf = 5 macam
* rarangkén di bawah huruf = 3 macam
* rarangkén sejajar huruf = 5 macam

a. Rarangkén di atas huruf
2

b. Rarangkén di bawah huruf
3

c. Rarangkén sejajar huruf
4

Angka
5

Dalam teks, angka diapit oleh dua tanda garis tegak | … |.

6 contoh : 240

Tanda baca

Di masa sekarang, aksara Sunda menggunakan tanda baca Latin.
Contohnya: koma, titik, titik koma, titik dua, tanda seru, tanda tanya, tanda kutip, tanda kurung, tanda kurung siku, dsb.

Asal Usul Sunda

Istilah Sunda kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta yakni sund atau suddha yang berarti bersinar, terang, atau putih. Dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) dan bahasa Bali dikenal juga istilah Sunda dalam pengertian yang sama yakni bersih, suci, murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada.

Menurut R.W. van Bemmelen seperti dikutip Edi S. Ekadjati, istilah Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekira 7.000 km. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian Utara.yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Fasifik bagian Barat serta bagian Selatan hingga Lembah Brahmaputra di Assam (India).

Dengan demikian, bagian Selatan dataran Sunda itu dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur, terus ke arah barat melalui pulau-pulau di kepulauan Sunda Kecil (the lesser Sunda island), Jawa, Sumatra, Kepulauan Andaman, dan Nikobar sampai Arakan Yoma di Birma. Selanjutnya, dataran ini bersambung dengan kawasan Sistem Gunung Himalaya di Barat dan dataran Sahul di Timur.

Dalam buku-buku ilmu bumi dikenal pula istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil. Sunda Besar adalah himpunan pulau yang berukuran besar, yaitu Sumatra, Jawa, Madura, dan Kalimantan, sedangkan Sunda Kecil adalah pulau-pulau yang berukuran kecil yang kini termasuk kedalam Provinsi Bali, Nusa Tenggara, dan Timor.

Dalam perkembangannya, istilah Sunda digunakan juga dalam konotasi manusia atau sekelompok manusia, yaitu dengan sebutan urang Sunda (orang Sunda). Di dalam definisi tersebut tercakup kriteria berdasarkan keturunan (hubungan darah) dan berdasarkan sosial budaya sekaligus. Menurut kriteria pertama, seseorang bisa disebut orang Sunda, jika orang tuanya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu ataupun keduanya, orang Sunda, di mana pun ia atau mereka berada dan dibesarkan.

Menurut kriteria kedua, orang Sunda adalah orang yang dibesarkan dalam lingkungan sosial budaya Sunda dan dalam hidupnya menghayati serta mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam hal ini tempat tinggal, kehidupan sosial budaya dan sikap orangnya yang dianggap penting. Bisa saja seseorang yang orang tuanya atau leluhurnya orang Sunda, menjadi bukan orang Sunda karena ia atau mereka tidak mengenal, menghayati, dan mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai sosial budaya Sunda dalam hidupnya.

Dalam konteks ini, istilah Sunda, juga dikaitkan secara erat dengan pengertian kebudayaan. Bahwa ada yang dinamakan Kebudayaan Sunda, yaitu kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan berkembang di kalangan orang Sunda yang pada umumnya berdomosili di Tanah Sunda. Dalam tata kehidupan sosial budaya Indonesia digolongkan ke dalam kebudayaan daerah. Di samping memiliki persamaan-persamaan dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, kebudayaan Sunda memiliki ciri-ciri khas tersendiri yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain.

Secara umum, masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, sering dikenal dengan masyarakat yang memiliki budaya religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “silih asih, silih asah, dan silih asuh” (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi). Di samping itu, Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan (handap asor), rendah hati terhadap sesama; penghormatan kepada orang tua atau kepada orang yang lebih tua, serta menyayangi orang yang lebih kecil (hormat ka nu luhur, nyaah ka nu leutik); membantu orang lain yang membutuhkan dan yang dalam kesusahan (nulung ka nu butuh nalang ka nu susah), dsb.

Strategi budaya

“Silih asih, silih asah, dan silih asuh” (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi), merupakan pameo budaya yang menunjukkan karakter yang khas dari budaya religius Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya.

Saling asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religius-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta kasih Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Dengan ungkapan lain, saling asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat.ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang kemudian melahirkan moralitas egaliter (persamaan) dalam masyarakat. Dalam tradisi masyarakat saling asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior maupun inperior sebab menentang semangat ketuhanan dan semangat kemanusiaan. Mendudukan manusia pada kedudukan superior atau inperior merupakan praktek dari syirik sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior (tinggi), berarti mendudukkan manusia sejajar dengan Tuhan dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang inperior (rendah), berarti mengangkat dirinya sejajar dengan Tuhan. Dalam masyarakat saling asih manusia
didudukkan secara sejajar (egaliter) satu sama lainnya. Prisip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, ta’awun (kerjasama) dan sikap untuk senantiasa bertindak adil. Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat teratur, dinamis dan harmonis.

Tradisi (budaya) saling asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan masyarakat sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial.

Selain itu, dalam masyarakat religius kepentingan kolektif maupun pribadi mendapat perhatian serius melalui saling kontrol, tegur sapa dan saling menasihati. Hal ini dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asuh. Budaya saling asuh inilah yang kemudian memperkuat ikatan emosional yang telah dikembangkan dalam tradisi saling asih pada masyarakat religius. Oleh karena itu, dalam masyarakat religius seperti ini jarang terjadi konflik dan kericuhan, tetapi ketika ada kelompok lain yang mencoba mengusik ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak (simultan).

Budaya silih asuh inilah yang merupakan manisfestasi akhlak Tuhan yang maha pembimbing dan maha menjaga, kemudian dilembagakan dalam silih amar makruf nahy munkar.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa silih asuh merupakan etos pembebasan dalam masyarakat religius dari kebodohan, keterbelakangan, kegelisahan hidup dan segala bentuk kejahatan.

Meski demikian, budaya religius sesungguhnya memberikan peluang dalam penyerapan iptek sebab memiliki sejumlah potensi, etos keterbukaan, penalaran, analisis, dan kritis sebagai upaya perwujudan akhlak Tuhan Yang Maha Berilmu dan Mahakreatif sebagimana dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asah.

Masyarakat saling asah adalah masyarakat yang saling mengembangkan diri untuk memperkaya khazanah pengetahuan dan teknologi. Tradisi saling asah melahirkan etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat. Etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat religius merupakan upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap yang lain sebab tanpa tradisi iptek dan semangat.ilmiah suatu masyarakat akan mengalami ketergantungan sehingga mudah terekploitasi, tertindas, dan terjajah.

Saling asah adalah semangat interaksi untuk saling mengembangkan diri ke arah penguasaan dan penciptaan iptek sehingga masyarakat memiliki tingkat otonomi dan disiplin yang tinggi.

Dalam masyarakat religius yang saling asah, ilmu pengetahuan, dan teknologi mendapat bimbingan etis sehingga iptek tidak lagi angkuh, tetapi tampak anggun, bahkan memperkuat ketauhidan. Integrasi iptek dan etika ini merupakan terobosan baru dalam kedinamisan iptek dengan membuka dimensi transenden, dimensi harapan, evaluasi kritis, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, budaya saling asih, saling asah dan saling asuh tetap akan selalu relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Melalui strategi budaya saling asih, saling asah saling asuh, manusia modern akan dapat dikembalikan citra dirinya sehingga akan terbatas dari kegelisahan, kebingungan, dan penderitaan serta ketegangan psikologis dan etis.

BAHASA SUNDA SMP-8

RAGAM BASA

Saperti nu geus dipikanyaho ku hidep yen basa sunda mah beda jeung basa indonesia. Dina basa sunda aya ragam basa, nyaeta dina nyarita kasahandapeun, ka sasama, jeung keur ka saluhureun atawa ka kolot teh basa nu dipakena teu sarua.
Pikeun nambah pangaweruh hidep, ieu dihandap aya sababaraha conto kecap ragam loma jeung ragam hormat:
download!

http://www.ziddu.com/download/19543042/RAGAMBASASUNDA.doc.html

ISTILAH WAKTU

1. Isuk-isuk, nyeta wanci ba’da subuh nepi ka waktu lewih jam 09.00.
2. Saenggeus, nyaeta nuduhkeun waktu nu geus kaliwat, tapi anyar keneh.
3. Harita, nyaeta nuduhkeun waktu nu geus kaliwat geus rada lila atawa waktu eta.

Dina basa sunda aya sesebutan atawa istilah waktu dina sapoe sapeuting, di antarana:
* Wanci janari (kira-kira tabuh 01.00-04.00)
* Wanci balebat (kira-kira tabuh 04.00 nepi ka pajar)
* Wanci carancang tihang (kira-kira tabuh 05.00-05.30)
* Wanci haneut moyan (kira-kira tabuh 07.30-08.30)
* Wanci rumangsang (kira-kira tabuh 09.00)
* Waktu pecat sawed (kira-kira tabuh 10.00
* Wanci manceran (kira-kira tabuh 12.00)
* Wanci lingsir ngulon (kira-kira tabuh 13.00)
* Wanci sariak layung (kira-kira tabuh 17.00-18.00)
* Wanci sareupna (kira-kira tabuh 18.00-18.30)
* Wanci sareureuh budak (kira-kira tabuh 19.00)
* Wanci teungah peuting (kira-kira tabuh 12.00)

PUPUH PANGKUR JEUNG LAMBANG

SMP-8
1. PANGKUR
Pupuh pangkur ngabogaan aturan guru wilangan jeung guru lagu 8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, jeung 8-i, jadi dina sapada aya tujuh padalisan. Eusi pupuh pangkur biasana napsu atawa sikap rek perang.

Conto:
Ceuk hate sungkan miboga (8-a)
Hayang waleh ngan teu wasa teu kapikir (11-i)
Seueul angen bari napsu (8-u)
Sok sieun kaleleban (7-a)
Bati melang bati nineung ti kapungkur (12-u)
Handeueul ku lalamunan (8-a)
Sok sieun henteu ngajadi (8-i)

Supaya jelas dirucat saengang-saengang.

Ceuk/ha/te/sung/kan/mi/bo/ga (8-a)
Ha/yang/wa/leh/ngan/teu/wa/sa/teu/ka/pi/kir (11-i)
Seu/eul/a/ngen/ba/ri/nap/su (8-u)
Sok/si/eun/ka/le/le/ban (7-a)
Ba/ti/me/lang/ba/ti/ni/neung/ti/ka/pung/kur (12-u)
Han/deu/eul/ku/la/la/mu/nan (8-a)
Sok/si/eun/hen/teu/nga/ja/di (8-i)

2. LAMBANG
Pupuh lambang mah dina sapada diwangun ku opat padalisan, sedengkeun guru lagu jeung guru wilanganana, nyaeta 8-a, 8-a, 8-a, 8-a. Eusi pupuh lambang biasana guyon atawa heureuy.

Conto:
Nawu kubang sisi tegal (8-a)
Nyiar bogo menang kadal (8-a)
Atuh teu payu dijual (8-a)
Rek di dahar da teu halal (8-a)

Lamun dirucat jadina kieu:
Na/wu/ku/bang/si/si/te/gal (8-a)
Nyi/ar/bo/go/me/nang/ka/dal (8-a)
A/tuh/teu/pa/yu/di/ju/al (8-a)
Rek/di/da/har/da/teu/ha/lal (8-a)