Beginilah Nabi Berhaji

Oleh: H. Ackman. Lc. M.Si

 

Dalam sejarahnya Nabi saw hanya sekali  mengerjakan haji setelah hijrahnya ke Madinah, yang dikenal dengan nama Haji Wadâ Dalam kesempatan itu, beliau mengajarkan pentingnya mengikuti tata cara haji yang diajarkanya seperti yang disabdakannya: “Ambilah dariku tata cara haji kalian.” Meskipun saat ini situasi dan kondisi sudah jauh berbeda yang berdampak banyaknya perubahan dalam tata cara manasik itu sendiri, namun pelajaran berharga dari sang pendidik agung

 

Hari Tarwiyah

Pada hari tarwiyah (8 dzulhijjah) setelah berniat (ihram) untuk haji di Mekah, Nabi saw bertolak menuju Mina dengan terus mengumandangkan talbiyah. Semua kesunahan ihram untuk haji ini, sama halnya ketika ihram untuk umrah di miqat. Selama di Mina salat lima waktu di-qashar tanpa jamak kecuali maghrib dan subuh yang tetap bilangan rakaatnya. Beliau banyak membaca dzikir, doa dan talbiyah selama di mina.

 

Wukuf di Arafah

Pagi harinya (9 Dzulhijah) Nabi saw bergerak menuju Arafah sedangkan sebagian rombongan ada yang membaca talbiyah dan sebagian lainnya membaca takbir. Sesampainya di Namirah beliau berhenti sejenak di tenda yang disediakan untuknya sambil menunggu datangnya waktu wukuf. Setelah masuk waktu dzuhur, Nabi Saw  mulai berkhutbah dengan dua kali khutbah. Dalam khutbahnya sambil duduk di tunganganya, Nabi mengajarkan tata cara manasik haji, mengingatkan akan buruknya riba, menjaga harkat martabat manusia, menghindari tabiat anakis jahiliyah dan nasihat berharga lainnya.

 

Diingatkan pula pentingnya memegang teguh Al-Qur’an dan Sunah, karena dengan dua pusaka tersebut manusia tidak akan tersesat.  Kemudian menjamak salat dzuhur dan ashar (jamak taqdim) dengan sekali adzan dan dua iqamat.  Diteruskan menuju Arafah untuk memulai wukuf hingga terbenam matahari. Dalam wukufnya, Nabi berdzikir, bertalbiyah  dan berdoa menghadap kiblat sambil mengangkat tangan.  Selesai wukuf perjalanan dilanjutkan menuju musdalifah dengan tenang dan khusuk sambil terus membaca talbiyah.

 

Mabit di Musdalifah

Setibanya di musdalifah, beliau menjamak salat magrib dan isya (jamak ta’khir qashar) dengan satu kali adzan dan dua iqamat. Kemudian  mengumpulkan batu kerikil sebesar ruas jari kelingking yang diteruskan dengan mabit.

Bagi nafar awal mengumpulkan 49 batu , sedangkan  nafar tsani mengumpulkan 70 batu saja. Seluruh wilayah Musdalifah merupakan tempat mabit dan tidak ada tempat khusus untuk mabit. Malam harinya, Nabi saw memerintahkan agar orang lemah, wanita, yang sakit, orang tua dan yang diberi keringanan lainnya untuk terlebih dahulu pergi ke mina setelah melewati tengah malam sebagai realisasi rukhshah (keringanan) bagi mereka, selain untuk mewaspadai terjadinya insiden buruk  yang tidak diinginkan. Yang diberi keringanan boleh langsung melempar jumrah aqabah seperti yang dilakukan Ummu Salamah dan Asma binti Abu Bakar . Sebelum salat subuh dilaksanakan, beliau mengerjakan salat sunat qabliyah terlebih dahulu. Kemudian wukuf  di May’aril Haram disertai takbir, tahlil, dzikir dan berdoa sambil mengangkat kedua tangan kearah kiblat.

 

Melontar Jumrah Aqabah

Pagi harinya, rombongan bergerak menuju mina sambil bertalbiyah sampai saatnya melempar jumrah aqabah tujuh lemparan disertai takbir di setiap lemparannya. Diteruskan dengan menyembelih tiga ekor kurban (hadyu) yang diakhiri dengan tahallul yang diminyaki oleh ‘Aisyah sesudahnya.

 

H.Ackman. Lc. M.Si

Sumber bacaan: Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dan sumber bacaan lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s