Keutamaan Ka’bah

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)
Ka’bah adalah bangunan suci bagi Muslimin yang terletak di kota Mekkah di dalam Masjidil Haram. Ka’bah adalah Kiblat umat Islam di seluruh dunia. Dan Ka’bah pun  tempat yang wajib dikunjungi pada musim haji dan umroh..

Keutamaan Ka’bah

  • Masjid pertama di Bumi. Itulah rumah Allah yang pertama kali dibangun untuk peribadatan manusia. Diriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mesjid apakah yang pertama dibangun?” Beliau menjawab.”Masjidil Haram.” (HR Muslim dan Ahmad)
  • Kiblatnya kaum muslimin. Arah kiblat kaum muslimin ketika melaksanakan shalat adalah menghadadap ke Ka’bah sesuai dengan perintah Allah, dan shalat tidak akan sah jika tidak menghadap ke arah Ka’bah, kecuali dalam kondisi darurat.
  • Shalat dalam Masjidil Haram akan membuahkan pahala yang sangat besar, Rasulullah bersabda, “Shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali shalat yang dilakukan di masjid-masjid lainnya.”

Keutamaan Zam-Zam

Keutamaan Air Zam-Zam

Oleh: H. A. M. Ackman. Lc , M.Si

 

Air Zam-zam terletak di depan Kabah dan saat ini sumur zam-zam telah di tutup demi kelancaran jamaah Haji datu Umroh yang hendak ber Towaf.

Dalam hadist-hadist disebutkan besarnya manfaat air zam-zam, bahkan disunahkan bagi jamaah Haji maupun Umroh untuk meminumnya, dan kesunahan minum air zam-zam juga bagi seluruh muslimin.

Banyak hadist yang menjelaskan keutamaan minum air zam-zam antara lain:

 

“Sunnguh (air zam-zam itu) penuh keberkahan dan memberi kenyang pada orang yang lapar.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Thoyalisi lain ada tambahan, “ penyembuh dari semua penyakit.”

Jadi kesimpulan dari hadist diatas adalah:

“ Bahwa air-zam-zam itu adalah air penuh keberkahan, yang bisa mengenyangkan orang yang lapar dan air penyembuh dari semua penyakit.”

Mengenai bisa mengenyangkan orang yang lapar ini pernah dibuktikan oleh seorang sahabat, Abu Dzar Al-Ghifari, yang pernah menetap selama 1 bulan di Kota Mekkah dan hanya minum air air zam-zam saja tanpa rasa lapar selama itu.

Bahkan dalam satu riwayat dari Imam Bukhori disebutkan bahwa Nabi Saw pernah dibersihakan dengan air Zam-zam oleh Malaikat ketika beliau masih kecil.

 

Kautamaan Minum Air Zam-zam

Ada beberapa Hadist yang menunjukan keutamaan minum Air Zam-zam

ماء زمزم لما شرب له

“Air zam-zam itu tergantung (niat) orang yang meminumnya.”(HR. Ibnu Majah)

Artinya keberkahan air zam-zam itu tergantung dari niat yang meminumnya, dan ini menunjukan bahwa air zam-zam bukan sekedar air pelepas dahaga saja. Namun lebih dari itu ia bisa menjadi wasilah (perantara) agar air zam-zam yang kita minum mengandung manfaat dan berkah bagi tubuh kita.

 

Etika Minum Air Zam-Zam

  • Minum sambil menghadap Kiblat
  • Membaca Basmalah terlebih dahulu
  • Bernafas (mengeluarkan nafas)  3 x ketika minum
  • Membaca Hamdalah selesai Minum
  • Duduk ketika minum, namun ada riwayat dari Imam Bukhori yang berasal dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw pernah minum air zam-zam sambil berdiri.
  • Dengan demikian berdiri maupun duduk dibolehkan ketika minum air zam-zam. Namun duduk lebih utama. Tapi bagi yang berhaji atau umroh tentunya sulit minum sambil duduk, ketika selesai mengerjakan tawaf karena banyak nya jamaah yang berkurumun mengambil air zam-zam (saat ini pintu akses ke sumur zam-zam telah ditutup, sehingga para jamaah hanya bisa mengambil air zam-zam di tong air zam-zam yang telah disediakan)
  • Ketika minum disisakan sedikit kemudian sisa air itu di usapkan ke kepala, wajah dan dada
  • Berdoa ketika minum air zam-zam

 

Doa Minum Air Zam-zam

Dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas ketika minum air zam-zam berdoa:

 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً ، وَ رِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

 

“Ya Allah aku minta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan obat dari segala penyakit.”

Situs di Kota Madinah

Situs Bersejarah di Kota Madinah

Oleh: H. A. M. Ackman. Lc. MSi

 

Sejarah Masjid Nabawi

Masjid yang dibangun Nabi Saw ketika datang dari dari Qubâ dari perjalanan hijrahnya. Ketika sampai di Madinah, para qabilah menawarkan diri agar mereka menetap di kediaman mereka, tapi ditolaknya dengan halus seraya berkata: “Biarlah Unta ini (yang) menuntunku.” Sampailah untanya di tempat pengeringan kurma milik dua orang anak yatim yang bernama Suhail dan Sahal yang diasuh oleh As’ad bin zararah al-Anshari. Tempat ini hanya sebidang tanah untuk mengeringkan kurma dan sebagian kuburan musyrikin. Nabi Saw membeli tanah itu dengan harga 10 dinar walaupun kedua anak yatim tadinya rela memberikan tanahnya untuk Nabi Saw. Untuk kedua kalinya unta beliau bergerak lagi ke tempat kediaman Abu Ayûb al-Anshâri. Setelah tinggal dua hari, mulailah pembangunan masjid, dan ketika itu arah kiblat menghadap ke Masjid al-Aqsha. Pembangunan ini berlangsung selama 7 bulan. Kemudian dibangun dua ruang di selatan masjid bagi ‘Aisyah dan Saudah. Dibangun pula tempat bagi ahli suffah (kaum miskin dari golongan Muhajirin).  Ketika pertama kali di bangun diameter mesjid brukuan 35 x 30 meter dengan dinding batu atau sejenis tanah yang di keringkan dengan pilar terbuat dari batang pohon kurma dan beratapkan pelepah kurma. Sedangkan mimbar Nabi Saw terbuat dari pohon kurma kering. Ketika khutbah beliau hanya berdiri di batang pohon kurma itu. Kemudian dibuat kan mimbar baru yang terbuat dari pohon kurma yang di kerat pada sisinya sehingga berbentuk tangga yang terdiri dari 4 tangga. Ketika berkhutbah beliau berdiri pada anak tangga yang ketiga.

 

Keutamaan Masjid Nabawî

Salat satu rakaat di Masjid Nabawî sama pahalanya dengan mengerjakan 1000 atau 10.000 rakaat selain di Masjid ini, kecuali masjidil Haram yang berpahala 100.000 rakaat. Nabi Saw besabda:

“Satu kali salat di masjidku ini lebih utama dari seribu rakaat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram, satu rakaat salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu rakaat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad).

Di dalam masjid ada tempat diantara mimbar Nabi Saw dengan rumah beliau yang disebut dengan Raudhah, mengenai keutamaan tempat ini Rasulullah Saw bersabda:

“(Ada sebuah) Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku (dan tempat itu) merupakan salah satu taman di antara taman surga.” (HR. Bukhari).

 

Disunahkan menziarahi kuburan Nabi Saw sebagaimana sabda beliau Saw:

“Siapa saja yang menziarahi kuburanku maka dipastikan ia akan mendapat syafaatku.” (HR. al-Bazzar, Daruqhutni dan Ibnu Khuzaimah)

 

Etika Masuk Masjid Nabawî

1. Tiba di Madinah perbanyaklah shalawat, mandi, berwudlu lalu berpakain yang terbaik dan pakailah minyak wangi.

2. Masuk ke Masjid dengan kaki kanan sambil membaca doa yang singkat:

Allâhummaftah lî abwâba rahmatika

Ya Allah, bukakanlah pintu rahmat-Mu untukku.”

3. Salat tahiyatul masjid dua rakaat, di rakaat pertama membaca Fatihah dan al-kafirun kemudian di rakaat kedua membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas.

Kemudian mendatangi Raudlah dan salat sunat kemudian mengucapkan Salam kepada Nabi, Abu Bakar dan Umar:

 

Assalaamu ‘alaika yaa nabiyyallahi, assalaamu’alaika Yâ sayyidal mursalîn wa imâmal muttaqîn. Asyhadu annaka qad ballaghtar risâlah wa addaital amânah wa nashahtal ummat wa jâhadta fillâhi haqqa jihâdih

Salam sejahtra bagimu wahai Nabi Allah, salam sejahtera atasmu wahai pemimpin semua nabi dan pemimpin orang yang muttaqin. Saya bersaksi, sesungguhnya engkau telah menyampaikan risalah Allah dan telah menunaikan amanah, engkau telah memberi nasehat kepada umat, dan engkau telah berjuang dijalan Allah dengan jihad yang benar”.

Kemudian memberi salam kepada Abu Bakar dan Umar. Kemudian berdoa menghadap kiblat (dilakukan diluar mesjid) terutama mensyukuri nikmat Allah hingga bisa mendatangi masjid

 

Perhatian

Jangan mengusap, mencium pagar besi Makam Nabi atau lainnya, karena perbuatan ini berlawanan dengan sunnah Rasul yang berakibat rusaknya kesucian ibadah anda.

 

Sejarah Masjid Qubâ

Dalam perjalanan hijrah Nabi Saw ke Madinah, beliau singgah di Qubâ selama 4 hari (hari senin tanggal 27 September 622 M, sampai hari jumat tanggal 1 oktober 622 M). Di tempat ini Nabi Saw bersama Abu Bakar diajak ke rumah Kultsun bin Hindun, yang mupakan tempat persinggahan pertama pula bagi kaum muhajirin yang berhijrah dari Mekah sebelum kedatangan Nabi Saw. Sewaktu Nabi Saw tiba di tempat ini, unta yang di tungganginya duduk di tanah lapang, dan di tempat inilah Nabi Saw membangun masjid. Masjid Qubâ adalah masjid pertama yang di bangun pada tahun ke-13 kenabian (622 M).  Salah satu prasasti yamg masih bisa disaksikan hingga sekarang adalah prasasti Sultan Mahmud II, satu khalifah Utsmaniyah (ottoman) yang merenovasi masjid ini. Di dalam masjid terdapat sebuah tanah terbuka, berkerikil dan ditengahnya terdapat kubah yang berhadapan dengan mihrab. Tempat ini disebut Mabrak an-Naqah (tempat duduk unta) yang diperkirakan tempat duduk unta Nabi Saw.

 

Keutamaan Masjid Qubâ

Mengenai keutamaan Mesjid Qubâ ini Nabi Saw bersabda:

“Barangsiapa yang berwudlu di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Qubâ dan salat di dalamnya, maka ia memperoleh pahala seperti mengerjakan umrah.”(HR. Ahmad, Nasaî, Ibnu Majah dan Hakim).

Nabi Saw sering mengunjungi masjid ini dengan mengendarai unta atau berjalan kaki pada hari sabtu. Para sahabat ikut pula mengujunginya karena Sunnah.  Umar bin Khattab berkata:

Andaikan masjid kita ini (Qubâ) terletak jauh di pelosok, tentu kita akan menunggang unta untuk berziarah kesana.”

Sedangkan Abdullah bin Umar meneladani Rasulullah Saw dengan berkunjung ke Masjid Qubâ pada hari sabtu. Bagi yang hendak berkunjung ke masjid Qubâ hendaknya berwudlu dahulu di hotel dan berdoa ketika masuk masjid diteruskan dengan salat sunnat. Tidak ada tempat khusus untuk salat dan ktika selesaî salat berdoalah menurut hajatnya, terutama doa yang menyangkut kesulitan hati, karena di sinilah Nabi Saw banyak berdoa karena kegelisahan hatinya setelah hijrah dari Mekah.

 

Masjid Qiblatain

Artinya masjid yang mempunyai dua kiblat dan dinamakan Masjid Qiblatain karena di masjid inilah turunya ayat Al-Qur-an yang memerintahkan berkiblat ke arah Ka’bah yang sebelumnya berkiblat ke masjid al-Aqsha. Masjid ini pada mulanya milik Bani salaman dari suku Khazraj, salah satu dari dua suku selain suku Aus yang menyarankan Nabi Saw hijrah dan menjajikan dukungannya. Bahwasannya Nabi Saw pernah diundang makan oleh Basyar bin Barra dari Bani Salaman dan ketika waktu zhuhur tiba beliau salat berjamaah dengan menghadap kiblat kearah masjid al-Aqsha. Ketika salat berjalan dua rakaat, turunlah ayat keharusan memindahkan arah kiblat kearah Kabah di Mekah.  Karena perubahan itu lelaki bertukar tempat dengan tempat kaum wanita. Oleh karena itulah masjid ini kemudian dinamakan Masjid Qiblatain. Di dalam masjid terdapat dua mihrab, yang menghadap ke selatan (arah Ka’bah) dan yang menghadap ke utara (arah masjid al-Aqsha).

 

Jabal Uhud

Nabi Saw selalu menziarahi tempat ini setahun sekali, dan hal ini dilakukan pula oleh para khalifah sesudahnya. Bersabda Nabi Saw: “Jabal uhud menyenangkan kami dan kamipun menyenanginya.” (HR. Bukhari)

Perang Uhud merupakan peperangan antara Muslimin dan Musyrikin dan tidak kurang 70 sahabat gugur, diantaranya Hamzah, paman Nabi. Di tempat ini ada sebuah lubang tempat Nabi Saw terjerembab dan terkena batu ketika perang.

 

Kuburan Baqî

Kuburan yang terletak sebelah timur Mesjid Nabawi tempat dimakamkanya kurang lebih 10.000 sahabat utama, keluarga Nabi Saw, para syuhada perang Uhud dan Badar. Disunahkan menziarahinya dan berdoa setelah bershalawat terlebih dahulu:

Allahumma shalli wa salim ‘alâ muhammad wa ‘âli Muhammad

As-sallamu ‘alaikum dâr qaumin mu’minîn wa innâ insyâ Allah bikum lâhiqûn, Allahummaghfir lî ahli baqî’ al-gharqad, Allohummaghfir lî wa lahum

“Mudah-mudahan kesejahteraan (wahai) penghuni rumah mu’minin, dan sungguh Insya Allah kami akan menyusul kalian semua, Ya Allah ampunilah ahli bagi ghorqod, Ya Allah ampunilah kami dan mereka.”

 

Sumber Bacaan:

1. Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al-Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)

2. Khurbûthulî, Ali, tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)

3. Mubarakfurî, Shafiyyurahmân. 2002, Tarikh Makkah al-Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)

Situs di Kota Mekkah

Situs Bersejarah di Kota Mekkah

Oleh: H.A.M Ackman. Lc. M.Si

 

1. Kabah

Kabah adalah bangunan persegi empat yang berada di dalam Masjidil Haram. Kabah juga disebut dengan Nama Baitullah, Bait al-‘Atîq (Rumah pembebas, rumah kemerdekaan) dan Bait ar-Rahmân (Rumah Yang Maha Pengasih). Di sekeliling Kabah terdapat Hajar Aswâd, hijir Ismail, Mîzab (talang air di atas Kabah yang terbuat dari emas), Maqâm Ibrahim dan Hatîm, yaitu pagar yang terbuat dari marmer putih yang membatasi Hijir Ismail.

1. Tan’îm

Dikenal pula sekarang dengan Nama Masjid A’isyah dan merupakan tempat berihrâm A’isyah ketika berumrah atas perintah Nabi Saw pada Haji Wadâ bersama saudaranya Abdul Rahman bin Abi Bakar ra.

 

2. Ji’ranah

Daerah sekitar 26 km sebelah utara Kota Mekah tempat Nabi Saw membagikan harta rampasan perang (ghanîmah) Hunain. Beliau berihrâm untuk umrah dari sini. Sekarang tempat ini terdapat masjid dengan Nama Masjid Ji’ranah sebagai tempat mîqât bagi yang berumrah.

 

3. Jabal Nur

Terletak sekitar 6 km sebelah utara Kota Mekah, sebelah kiri jalan menuju Arafah. Di gunung ini terdapat gua yang dikenal dengan nama Gua Hirâ yang merupakan tempat Nabi Saw menerima wahyu pertamanya.

 

4. Gua Hirâ

Sebelum diangkat menjadi Nabi, Rasulullah Saw beliau sering ber-tahannuf atau tahannust (menyendiri sambil merenung dan beribadah) yang dilakukan selama tujuh tahun sambil membawa bekal. Jika bekalnya habis, beliau pulang kemudian kembali lagi. Siang harinya digunakan untuk berpuasa. Saat usianya menginjak 40 tahun, tepatnya 6 bulan terakhir Nabi Saw lebih sering datang ke Gua Hirâ, dan selama itu pula beliau sering mendapat mimpi berulang-ulang. Memasuki hari ke 17 ramadhan datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertamanya.

 

5. Jabal Tsûr

Gua yang terletak di sebuah gunung bejarak 10 km selatan Kota Mekah yang merupakan tempat persembunyian Nabi Saw bersama Abu Bakar dalam pengejaran kaum musyikin ketika hijrah. Selama tiga hari Nabi Saw dan Abu Bakar ra tinggal di dalam gua ini, selama itu pula Asma binti Abu Bakar yang mengantar makanan mereka. Abdul Rahman, anak lelaki Abu Bakar setiap hari mengujungi mereka untuk memberi kabar yang terjadi di Mekah. Pada hari ke-empat mereka keluar dan telah menunggu Abdullah bin Uraiqit seorang majusi (penyembah api) juga sebagai penunjuk jalan dengan membawa dua unta yang telah disewa oleh Abu Bakar sebelumnya. Keduanya lalu berangkat ke Madinah menyusuri pantai laut merah.

Fiqih Umroh

Oleh: H. M. Ackman. Lc. M.Si

 

Arti Umroh

Umrah berarti mengunjungi Kabah dan tawaf disekelilingnya, Sai antara Shafa dan Marwah, kemudian tahallul. Umrah hukumnya sunat bila dilakukan diluar ibadah haji, dan bila dilakukan bersamaan dengan ibadah haji maka hukumnya wajib.

 

Rukun umrah

Arti rukun Rukun dalam Haji & Umroh artinya: Amalan dalam haji/umrah yang jika bila ditinggalkan ibadahnya tidak sah dan tidak dapat di ganti Dam.

Rukun Umroh yaitu:

1.   Ihram (niat umrah)

2.   Tawaf

3.   Sai

4.   Tahallul

5.   Tertib yaitu tidak mendahulukan yang satu dengan yang lainnya

 

Wajib Umrah

Arti Wajib dalam haji/unroh artinya: Amalan yang harus dilakukan dalam umrah. Bila ditinggalkan ibadahnya sah tetapi harus membayar Dam.

Wajib umrah adalah sebagai berikut:

1. Ihram (niat) mengerjakan umrah di Miqat

2. Tidak melakukan perbuatan yang membatalkan umrah

 

Ihram (niat)

Ihrom artinya ber-niat untuk memulai umrah dan umroh itu sendiri sangat tergantung dari benar atau tidaknya niat itu. Karena Niat merupakan salah satu dari rukun umrah dan tidak boleh ditinggalkan.

 

Miqat

Miqat berarti waktu dan tempat yang telah ditentukan untuk melakukan ihram baik kaitanya dengan ibadah haji ataupun umrah.

Miqat Haji terbagi dua:

  • Miqat zamani: waktu tertentu untuk melaksanakan haji yaitu pada bulan Syawal, Dzulqaidah dan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah (sampai sebelum terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah).
  • Miqat makani: Beberapa tempat untuk memulai ihram dan tidak boleh melalui tempat itu tanpa berihram. Miqat tersebut adalah:  

a.  Miqat yang berihram dari Madinah adalah Dzuhulaifah (Bir Ali).

b.  Julfah (Rabigh) Miqat bagi jamaah yang datang dari Syiria, jordania, libanon dan Mesir.

c.  Miqat bagi penduduk Nejed Qornul Manazil.

d.  Miqat penduduk Yaman ialah Yalamlam sekitar 54 km

e. Miqat penduduk Iraq ialah Dzatu Irqin.

Bagi bertempat di negeri lain maka miqatnya tergantung dari daerah mana ia melaluinya.

 

Miqat Umrah

Miqat makani umrah sama dengan ibadah Haji, namun Miqat Zamani (waktu yang dibolehkan untuk Umroh) bisa dilaksanakan kapan saja tanpa terikat waktu.

Dan Miqat Makani umroh sama halnya dalam Haji, namun ada tambahan yaitu,  adalah Ji’ronah atau Tan’im. Yang keduanya masih di kawasan kota Mekkah.

 

Miqat Jamaah Indonesia

Bagi yang berumrah dari Indonesia dengan tujuan Jedah bisa memilih cara:

Mengambil miqat di King Abdul Aziz Airport Jeddah. Namun pandangan ini tidak disetujui oleh para Ulama termasuk ulama Saudi. Karena memang tidak disebutkan dalam hadist Nabi Saw, bahwa Jeddah adalah tempat Miqat.

 

Alternatif yang paling baik yaitu:

  • Berniat beberapa menit sebelum tiba di Airport Kota Jeddah, dengan kata lain berniat di atas pesawat sebelum mendarat (biasanya para pilot memberitahu bahwa pesawat berada diatas Miqat)
  • Ber-miqat di Madinah, yaitu di Bir ‘Ali dan ini alternative sesuai Sunnah Nabi Saw, karena terakhir kali beliau berhaji dengan mengambil Miqot di tempat ini.

 

Melewati Miqat tanpa Ihram

Yang melewati miqat tanpa ihram harus kembali ke miqatnya semula, bila tidak, maka wajib membayar dam atau dapat mengambil cara lain:

  • Kembali ke miqat sebelum melaksanakan ibadah umrah
  • Mengambil miqat dari Tan’im atau Ji’ronah.

 

Adab dan tata tertib ihram

  • Menjaga kebersihan dan kerapihan tubuh seperti: memotong kuku, merapikan atau mncukur rambut, kumis, jnggot, bulu ketiak, membersihkan semua kotoran, mandi dan berwudlu sesudahnya.
  • Memakai lmbar pakaian Ihram, yang selembar digunakan untuk menutupi bagian atas (rida/selendang), kecuali kepala. Selembar lainnya untuk menutupi bagian bawah (izzar/sarung). Bagi pria menggunakan sandal/sepatu yang terlihat mata kaki dan jarinya.  Wanita memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
  • Memakai minyak wangi atau sejenisnya dan hindari  memakainya setelah ihram
  • Salat dua rakaat ihram. Bila salat wajib didirikan maka salat ini dianggap penganti salat sunat ihram. Jika salat sunat ihram dilakukan sesudah salat wajib maka hal itu lebih dianjurkan.
  • Membaca Talbiyah dengan suara nyaring di setiap saat dan keadaan, kecuali bagi wanita cukup terdengar oleh diri sendiri.

Larangan ihram

  • Memakai pakaian berjahit, menutupi kepala, menggunting kuku, mencabut, memotong rambut atau bulu badan. Bila kuku pecah/rusak boleh dicabut
  • Memakai cadar atau masker bagi wanita dan melakukan aqad nikah.
  • Memakai wewangian sesudah ihram kecuali sisa wangi yang dipakai sebelum ihram. Menghindari bersolek bagi wanita sangat dianjukan, perbuatan tidak senonoh, maksiat, mengunjing, berdebat dan membunuh binatang darat yang liar dan halal dimakan.

 

Yang dibolehkan Ketika Ihram

  • Mandi, mengosok gigi, menganti kain ihram, menutup muka untuk menghindari debu/pasir, menutup kepala karena lupa, menggaruk kepala/badan, memakai sabuk, cincin, tas kecil di pingang, jam tangan, berpayung atau bernaung.
  • Memakai sepatu bagi wanita dan celak mata.
  • Membunuh lalat, kutu, dan semut atau binatang berbisa yang berbahaya. Menggunakan bantal, sorban yang dipakai untuk bantal atau alas, mencelupkan kepala ke dalam air, meletakan tangan untuk dijadikan bantal, mengikat kepala dengan kain, meletakan barang diatas kepalanya.

Dam atau Denda

Dam adalah denda karena melanggar larangan ihram dengan menyembelih kurban atau yang seharga dengannya. Dam dalam umrah adalah:

  • Meninggalkan tawaf wada.
  • Mencukur, memotong atau mencabut rambut, memakai wewangian, memakai pakaian yang berjahit, memotong kuku, menutup muka dengan sengaja, memakai sarung tangan bagi wanita, wajib membayar dam dengan memilih salah satu:

a. Menyembelih seekor kambing  atau yang seharga dengannya
b. Bersedekah kepada 6 (enam) orang miskin dan setiap orang kurang lebih 1.5 kg beras atau makanan yang mengenyangkan.

  • Berpuasa 3 (tiga) hari di tanah suci.
  • Walaupun diharuskan membayar dam, namun umrahnya tetap sah. Memakai wewangian atau pakaian berjahit karena tidak tahu atau lupa, tidak mengapa dan tidak ada dam atasnya.
  • Akad nikah dalam ihram tidak sah, tetapi tidak diharuskan membayar dam dan ihramnya tidak batal.
  • Melakukan Rafats, Fusuq dan Jidal ibadah tetap sah, tetapi gugur pahalanya namun tidak diharuskan membayar dam.

 

Tawaf dan Syaratnya

Tawaf ialah mengelilingi Kabah tujuh putaran yang dimulai dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad yang dihitung satu putaran. Syarat Tawaf:

  • Suci dari hadast besar, kecil, najis baik di badan maupun pakaian. Wanita haid tidak disarankan tawaf.
  • Menutup aurat dan menyempurnakan tawaf tujuh putaran.
  • Tawaf terus menerus tanpa berhenti kecuali ada sebab; batal kemudian berwudlu dan meneruskan sisa putaran, ketika salat fardu didirikan dan boleh stirahat bagi yang lelah.

 

Tawaf dan Sunahnya

  • Menghadap Hajar Aswad ketika memulai tawaf dan berwudlu.
  • Mengusap sudut Rukun Yamani tanpa mengecup tangan sesudahnya
  • Salat sunat tawaf di Maqam Ibrahim
  • Ramal dan Idthiba. Ramal: lari-lari kecil atau berjalan cepat pada tiga putaran pertama tawaf. Idhtiba: mengepit rida (selendang) dibawah ketiak kanan dan meletakkan ujungnya diatas bahu kiri. Ramal dan Idhtiba hanya disunahkan ketika pertama kali umrah yaitu ketika tawaf qudum (tawaf umrah sudah termasuk di dalamnya tawaf qudum bila diniatkan) dalam satu perjalanan dan tidak disunahkan pada tawaf sesudahnya. Ramal tidak disunahkan bagi wanita.

 

Tawaf  Sunnah

Yaitu tawaf ketika memasuki Masjidil Haram sebagai penganti salat tahiyatul masjid tanpa berpakaian ihram dan sai. Dianjurkan memperbanyak tawaf ini karena keutamaannya.

 

Tawaf wada

Jamaah yang akan meninggalkan Mekah diwajibkan melakukan tawaf wada tujuh putaran tanpa Sai sesudahnya. Wanita yang sedang haid tidak disunahkan tawaf wada.

 

Daftar Pustaka

  • Gayo, H.M. Iwan, 2004, Buku Pintar Haji dan Umrah (Jakarta: Pustaka Warga Negara)
  • Juzayrî, Abdul Rahman, 1990, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al-Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)
  • Khurbûthulî, Ali, tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)
  • Mubarakfurî, Shafiyyurahmân. 2002, Tarikh Makkah al-Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)
  • Mundzirî, Abdul ‘Adzîm, 1992, Tahdzîb at-Targhîb wa at-Tarhîb. (Beirut: Darul Jail)
  • Nawawî, Muhyidîn, tt, al-Majmû Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)
  • _________________ al-Adzkâr (Beirut: Dar al-Fikr)
  • _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)
  • Râwah, Abdul Fattâh, 2003, Kitâb al-Îdhâh Fî Manâsik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al-Imdâdiyyah)
  • Rousydy, Latif, 1989, Manasik Haji dan Umrah Rasulullah s.a.w (Medan: Rimbow)
  • Sâbiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Shihab, Quraish, 2003, Haji bersama M. Quraish Shihab (Bandung: Mizan)
  • Qudâmah, Ibnu, 1997, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustaphâ al-Bâz)
  • Qârî, Mulâ ‘Alî, 1998, Irsyad asy-Syârî, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbâs Ahmad al-Bâz)
  • Zuhaylî, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr)

Beginilah Nabi Berhaji

Oleh: H. Ackman. Lc. M.Si

 

Dalam sejarahnya Nabi saw hanya sekali  mengerjakan haji setelah hijrahnya ke Madinah, yang dikenal dengan nama Haji Wadâ Dalam kesempatan itu, beliau mengajarkan pentingnya mengikuti tata cara haji yang diajarkanya seperti yang disabdakannya: “Ambilah dariku tata cara haji kalian.” Meskipun saat ini situasi dan kondisi sudah jauh berbeda yang berdampak banyaknya perubahan dalam tata cara manasik itu sendiri, namun pelajaran berharga dari sang pendidik agung

 

Hari Tarwiyah

Pada hari tarwiyah (8 dzulhijjah) setelah berniat (ihram) untuk haji di Mekah, Nabi saw bertolak menuju Mina dengan terus mengumandangkan talbiyah. Semua kesunahan ihram untuk haji ini, sama halnya ketika ihram untuk umrah di miqat. Selama di Mina salat lima waktu di-qashar tanpa jamak kecuali maghrib dan subuh yang tetap bilangan rakaatnya. Beliau banyak membaca dzikir, doa dan talbiyah selama di mina.

 

Wukuf di Arafah

Pagi harinya (9 Dzulhijah) Nabi saw bergerak menuju Arafah sedangkan sebagian rombongan ada yang membaca talbiyah dan sebagian lainnya membaca takbir. Sesampainya di Namirah beliau berhenti sejenak di tenda yang disediakan untuknya sambil menunggu datangnya waktu wukuf. Setelah masuk waktu dzuhur, Nabi Saw  mulai berkhutbah dengan dua kali khutbah. Dalam khutbahnya sambil duduk di tunganganya, Nabi mengajarkan tata cara manasik haji, mengingatkan akan buruknya riba, menjaga harkat martabat manusia, menghindari tabiat anakis jahiliyah dan nasihat berharga lainnya.

 

Diingatkan pula pentingnya memegang teguh Al-Qur’an dan Sunah, karena dengan dua pusaka tersebut manusia tidak akan tersesat.  Kemudian menjamak salat dzuhur dan ashar (jamak taqdim) dengan sekali adzan dan dua iqamat.  Diteruskan menuju Arafah untuk memulai wukuf hingga terbenam matahari. Dalam wukufnya, Nabi berdzikir, bertalbiyah  dan berdoa menghadap kiblat sambil mengangkat tangan.  Selesai wukuf perjalanan dilanjutkan menuju musdalifah dengan tenang dan khusuk sambil terus membaca talbiyah.

 

Mabit di Musdalifah

Setibanya di musdalifah, beliau menjamak salat magrib dan isya (jamak ta’khir qashar) dengan satu kali adzan dan dua iqamat. Kemudian  mengumpulkan batu kerikil sebesar ruas jari kelingking yang diteruskan dengan mabit.

Bagi nafar awal mengumpulkan 49 batu , sedangkan  nafar tsani mengumpulkan 70 batu saja. Seluruh wilayah Musdalifah merupakan tempat mabit dan tidak ada tempat khusus untuk mabit. Malam harinya, Nabi saw memerintahkan agar orang lemah, wanita, yang sakit, orang tua dan yang diberi keringanan lainnya untuk terlebih dahulu pergi ke mina setelah melewati tengah malam sebagai realisasi rukhshah (keringanan) bagi mereka, selain untuk mewaspadai terjadinya insiden buruk  yang tidak diinginkan. Yang diberi keringanan boleh langsung melempar jumrah aqabah seperti yang dilakukan Ummu Salamah dan Asma binti Abu Bakar . Sebelum salat subuh dilaksanakan, beliau mengerjakan salat sunat qabliyah terlebih dahulu. Kemudian wukuf  di May’aril Haram disertai takbir, tahlil, dzikir dan berdoa sambil mengangkat kedua tangan kearah kiblat.

 

Melontar Jumrah Aqabah

Pagi harinya, rombongan bergerak menuju mina sambil bertalbiyah sampai saatnya melempar jumrah aqabah tujuh lemparan disertai takbir di setiap lemparannya. Diteruskan dengan menyembelih tiga ekor kurban (hadyu) yang diakhiri dengan tahallul yang diminyaki oleh ‘Aisyah sesudahnya.

 

H.Ackman. Lc. M.Si

Sumber bacaan: Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dan sumber bacaan lainnya

Keutamaan Haji & Umroh

Oleh: H. A.M. Ackman. Lc. M.Si

 

1. Salah Satu Ibadah Utama

Rasulullah Saw ditanya, manakah amalan yang paling utama?  Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”, kemudian ditanya lagi, Kemudian apalagi? Jihad di jalan Allah, kemudian ditanya lagi: kemudian apalagi?” beliau menegaskan, Haji mabrur.” (HR. Bukhari Muslim)

 

2. Salah Satu Jalan Jihad di Jalan Allah

“Wahai Rasulullah, bolehkan kami ikut perang dan jihad bersamamu? Nabi Saw menjawab, Bagi kalian (wanita) ada jihad yang lebih baik, yaitu haji haji yang mabrur, setelah itu berkata Aisyah, sesudah mendengar sabda itu, maka aku tidak pernah lagi meninggalkan ibadah haji.” (HR.Bukhari dan Ibnu Khuzaimah).

 

3. Penghapus Dosa

Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan haji dan tidak melakukan keburukan, tidak berbuat fasiq (maksiat) maka akan kembali (dihapus semua dosanya) seperti pada saat ia dilahirkan oleh ibunya”. (HR. Bukhari, Muslim dan Nasaî).

 

4. Merupakan Duta-Duta Allah

Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan duta-duta Allah, apabila mereka memohon kepada Allah niscaya Dia akan mengabulkannya dan bila mereka meminta ampun, niscaya Dia akan mengampuninya”. (HR Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

 

5. Antara Umrah ke Umrah Penghapus dosa

Rasulullah Saw bersabda: “antara umrah yang satu dan umrah lainnya, adalah kafarat (penghapus dosa) diantara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari, Muslim, Malik, Tirmidzi, Nasaî, Ibnu Majah dan ash-Ashbahani).

 

6. Dana Haji Sama Dengan Infaq Di Jalan Allah

Nabi Saw bersabda, “Dana haji sama dengan biaya untuk perang di jalan Allah, satu dirham menjadi tujuh ratus lipat ganda.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Baihaqi dengan sanad yang baik)

 

7. Umrah Ramadhan Berpahala Ibadah Haji

Nabi Saw bersabda: “Umrah di bulan Ramadlan sama pahalannya dengan mengerjakan Haji.” (HR Ibnu Majah)

 

8. Seperti berhaji Dengan Nabi Saw

Nabi Saw bersabda,” Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya berumrah di bulan Ramadlan sama pahalannya dengan mengerjakan Haji bersamaku.”(HR Ibnu Hibban)

Tata Cara Umroh

Lakukan Hal ini Sebelum Anda Berumrah

Oleh: H. A. M. Ackman. Lc. M.Si


Sebelum Anda berumrah ada beberapa amalan penting yang tidak boleh dilupakan. Dan amalan ini merupakan penyempurna ibadah Umroh itu sendiri, karena peroleh Mabrur atau MAqbul dalam Umroh itu terkait dengan amalan sebelum berangkat. Karena tidak mungkin bahwa Mabrur, soleh ataupun takwa itu sendiri diperoleh hanya dalam waktu 1 minggu saja tanpa persiapan lahir batin di tanah air.

Persiapan Di Tanah Air

Persiapan Dhohir

  • Bertobat dari segala dosa dan maksiat, baik dosa kepada Allah Swt, yaitu pelanggaran dari segala larangan-Nya dan keengganan melaksanakan perintahNya, maupun dosa kepada sesama manusia.
  • Meminta izin orang tua atau yang dituakannya.
  • Membayar segala utang, mengembalikan harta yang diperoleh dengan cara zhalim (korupsi) dan aniaya (merampas hak orang lain).
  • Dana yang digunakan benar-benar halal dan bersih.
  • Menyiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.
  • Banyak bersedekah kepada dhuafa, fakir dan miskin.
  • Carilah kawan seperjalanan yang saleh, yang baik, senang menolong, sering mengingatkan jika lupa, suka menegur jika ada kesalahan, memotivasi kepada keteguhan dan kesabaran.
  • Sebelum berangkat, berpamitan kepada teman, tetangga dan saudara lainya yang berdekatan. Meminta restu mereka, dan mendoakan untuk mereka

Persiapan Batin

  • Niat dan tujuan semata-mata karena Allah Swt, dan bukan untuk mencari kemasyhuran dan gelar.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Meninggalkan rafats (ucapan kotor; tidak berguna), fusûq (maksiat, keluar dari ketaatan kepada Allah Swt), dan jidâl (berbantahan, bertengkar dll)
  • Rendah hati, lemah-lembut, mengutamakan kebaikan, budi pekerti yang baik. Tidak menyakiti orang lain, husnu zhan (berbaik sangka), sabar dan tabah dalam menghadapi perbuatan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan
  • Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan. Tidak memperhitungkan segala apa yang telah dikeluarkan untuk menyempurnakan ibadah haji maupun umrah
  • Ikhlas dan sabar dalam menghadapi musibah atau kerugian yang menimpa fisik dan harta. Sebab segala musibah dan kerugian yang diterima secara ikhlas, termasuk kebaikan berpahala di sisi Allah Swt

Menjelang Berangkat

  • Salat sunat Safar (bepergian) dua rakaat dengan membaca Fatihah dan al-Kafirun di rakaat pertama dan Fatihah dan al-Ikhlas di rakaat kedua. Boleh membaca Ayat Kursi1 atau Surat al-Quraisy dan satu kali sebelum keluar rumah atau doa lainnya yang dihafal dan disukai.
  • Berdoa bagi keluarga maupun teman yang ditinggalkan
  • Ketika naik kendaraan atau pesawat terbang bacalah doa

Bismillah

Setelah duduk membaca lagi:

Alhamdulillah

Diteruskan dengan membaca:

Subhânaladzî sakhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahû muqrinîn wa innâ ilâ robbinâ lamunqolibûn

“Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami (padahal) kami tidak sanggup mengendalikannya. sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah.” (QS. Al-Zukhruf: 14)

Diteruskan dengan membaca:

Allahu Akbar 3 x

Atau membaca:

Subhânaka innî dzolamtu nafsî faghfir lî innahû lâ yaghfiru dzunûb illâ anta

“Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku menganiaya diriku sendiri (maka) ampuni aku karena tidak ada (yang) bisa mengampuni kecuali Engkau.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasaî dengan sanad sahih)

  • Selalu dalam keadaan berwudlu dan shalat berjamaah
  • Banyaklah berbuat kebaikan dalam perjalanan selain sabar  dan tawakal kepada Allah Swt
  • Berdoalah di setiap kesempatan dalam perjalanan karena doa yang sedang bepergian mustajab sebagaimana disebutkan dalam hadist:

“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan: doa orang yang dizhalimi, doa orang yang sedang bepergian, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi)

2.  Tata Cara Umrah

Melaksanakan Sunat-Sunat Ihram

  • Sebelum ihram rapikan kuku, rambut, jenggot, kumis, bulu ketiak dan bulu lainnya. Kemudian mandi (membasahi badan dari kepala sampai kaki), menyela-nyela jari tangan dan kaki, kemudian berwudhu.
  • Selanjutnya mengenakan pakaian ihram. Bagi pria yang satu disebut Rida (kain bagian atas) dan Izzar (kain bagian bawah).
  • Pakaian ihram untuk wanita sama halnya dengan pakaian ketika shalat. Yaitu jilbab yang harus menutupi seluruh rambut (rambut tidak boleh terlihat). Baju harus menutupi dada. Tidak boleh memakai pakain tipis hingga terlihat rambut atau kulit, selain telapak muka dan telapak tangan. Kaki memakai kaos kaki/stoking.
  • Sebelum niat boleh memakai wewangian, body lotion, parfum dan lainnya. Namun tidak boleh dilakukan sesudah niat.
  • Bila salat wajib didirikan, kerjakan salat sunat ihram setelahnya, atau boleh menjadikan salat wajib itu penganti salat sunat ihram.

Perhatian

  • Shalat sunnat ini tidak diniatkan untuk ihram, tapi berniat mengerjakan shalat sunnat yang disebabkan satu sebab. Misalnya shalat dhuha, shalat hajat, tahiyatul masjid dll.
  • Yang bermiqat di Madinah sebaiknya mengerjakan semua sunah ihram di hotel.
  • Setelah berpakaian ihram, salat sunat dan niat dilakukan di Bir Ali.

2. Ihram Umrah

Ihram umrah adalah niat untuk melaksanakan umrah kemudian diikuti dengan Talbiyah. Ihram umrah ini merupakan tanda telah masuknya rangkaian ibadah umrah dengan diharamkannya melakukan segala sesuatu selama melalaksanakan umrah sebagaimana takbiratul ihram dalam shalat.

Niat untuk umrah antara lain:

Labbaika Allâhuma Umratan

“Aku taati panggilan-Mu untuk melakukan umrah”

Setelah niat tidak boleh melanggar larangan ihram. Tidak boleh berkata buruk, mengunjing, bertengkar, berdebat yang tidak bermanfaat dan larangan lainnya untuk menjaga kesempurnaan umrah. Banyaklah membaca talbiyah:

Labaîk allâhumma labaîk, labaîk lâ syarîka laka labaîk, innal hamda wan ni’mata laka wal mulku, lâ syarîka laka

“Aku penuhi seruan-Mu Ya Allah, aku penuhi seruan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kerajaan milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Setelah berulang kali membaca talbiyah diselingi shalawat:

allâhumma shalli wa sallim ‘alâ muhammad wa ‘alâ Ali muhammad

“Ya Allah limpahkan kesejahteraan dan keselematan kepada Muhammad dan keluarganya.”

Kemudian bacalah doa yang disukai, misalnya doa:

allâhumma inna nas-aluka ridhâka wal jannah wa naûdzubika min sakhatika wannâr.

Ya Allah kami meminta ridha-Mu dan surgaMu. Kami berlindung dari kemarahan dan api neraka.”


3. Masuk ke Masjidil Haram

Ketika masuk masjid dahulukan kaki kanan dengan membaca:

Allahumaftah lî abwâba rohmatika

“Ya Allah bukakan bagiku semua pintu RahmatMu.”

Kemudian berjalan dengan tenang dan khusuk sambil membaca talbiyah.

Ketika melihat Kabah berdoa sambil mengangkat kedua tangan:

Allahumma zid hâdzal baita tasyrîfan wa ta’dzîman wa takrîman wa mahabatan wa zid man syarrafahu wa karamahu mimman hajjahu wa’tamarahu tasyrîfan wa ta’dzîman wa takrîman wa birran

“Ya Allah tambahlah kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kemegahan rumah ini. Tambahkan pula kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kebaikan bagi yang telah menghormati dan memuliakan rumahMu dari orang yang berhaji dan umrah.” (HR. Syafi’i) dan lainnya)

Setelah itu berdoalah menurut keinginan anda.

4. Memulai Tawaf

Ketika hendak tawaf benarkan letak baju ihram menjadi Idhthiba. Yaitu ujung baju ihram bagian kanan disimpan di pundak sebelah kiri.

Mulailah tawaf dengan berjalan cepat (raml) di tiga putaran pertama sambil idhtihba di seluruh putaran. Dan bacalah doa diatas setiap kali Isyarah (melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad) .

Ketika raml bacalah doa ini:

Allâhumaj’alhû hajjan mabrûran wa dzanban maghfûran wa sa’yan masykûran

“Ya Allah jadikan aku haji yang mabrur, dosa yang diampuni dan sai yang diampuni.” (HR. Syafi’i)

Perhatian

  • Raml (berjalan cepat) di 3 putaran pertama tawaf hanya disunahkan ketika pertama kali tawaf umrah dalam satu pejalanan. Dan tidak disunahkan pada tawaf sesudahnya. Bila tidak mampu maka berusaha semampunya ber-raml. Bila tidak sanggup juga berjalanlah biasa. Raml hanya disunahkan bagi laki-laki.
  • Idhtiba disunahkan dalam setiap tawaf untuk umrah.
  • Tidak ada doa khusus dalam setiap putaran tawaf. Bacalah doa yang dikuasai. Doa dalam Al-Qur’an dan Hadist lebih diutamakan.

Selesai raml pada 3 putaran pertama mulai mulai berjalan biasa pada empat putaran akhir.  Pada putaran selanjutnya bacalah:

Allâhumaghfir warham wa’fu ‘amma ta’lam wa antal a’azul akrom, Allâhuma robbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabanâr

“Ya Allah rahmati dan ampunilah aku dari dosa yang Engkau ketahui, karena Engkau Maha Besar dan Mulia. Ya Allah berilah aku kebaikan dunia dan akhirat, bebaskan aku dari api neraka.”

Selama tawaf bacalah dzikir dan doa pilihan anda atau membaca doa ini:

Subhânallahi wal hamdulillâhi wa lâ illâha illallah wallâhu akbar wa lâ haula wa lâ quwwata illa billâhi

“Maha Suci Allah, Segala puji bagiNya dan tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar dan tidak ada daya upaya kecuali dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)

5. Rukun Yamani

Di Rukun Yamani (sudut yang berdampingan dengan Hajar Aswad) isyarah (tangan diarahkan) dengan tangan kanan tanpa mencium tangan sesudahnya.

Antara Rukun Yamani dengan Hajar Aswad bacalah doa:

Allâhumma rabbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabannâr

“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan selamatkan kami dari api neraka.”


6. Salat di Maqam Ibrahim

Selesai tawaf kemudian menuju maqam Ibrahim sambil membaca:

Wattakidzû min maqâmi ibrâhîma mushollâ

Dan Jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim tempat salat.”

Pakaian yang tadinya idhthiba dilepas dan selimutkan ke badan kemudian salat sunnat dua raka’at. Rakaat pertama membaca Fatihah dan al-Kafirun, rakaat kedua membaca fatihah dan al-Ikhlas. Sesudah salat bacalah menurut keinginan anda.

Perhatian

  1. Tidak ada doa khusus dalam setiap putaran tawaf kecuali hanya beberapa doa yang telah disebutkan diatas. Anda boleh membaca doa sendiri atau dengan bahasa yang anda kuasai.
  2. Tidak disunahkan mengusap, mencium atau menempelkan benda untuk mengambil berkah karena hal ini tidak diajarkan Nabi saw.
  3. Mencium Hajar Aswad adalah sunah sedangkan menghormati sesama Muslim wajib hukumnya, maka jangan mengejar pahala sunah namun berakibat dosa.
  4. Jangan paksakan mencium Hajar Aswad bila keadaan penuh sesak. Bila keadaan penuh sesak dan tidak memungkinkan raml, berjalan biasa atau tetap raml semampunya.
  5. Jangan paksakan salat yang berhadapan langsung dengan maqam Ibrahim bila penuh sesak, carilah tempat kosong. Kemudian Istilam (bila memungkinkan) ke arah Hajar Aswad sambil berdoa di Multazam (bila memungkinkan) atau cukup berdoa di tempat anda berada.
  6. Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim, maka hindari mengusap, mencium untuk mengharap berkah. Ingat! Jangan rusak ibadah anda dengan perbuatan yang tidak ada tuntunannya.
  7. Ketika umrah berikutnya dalam tawaf hanya berjalan biasa tanpa raml maupun idhtiba.

7. Minum Air Zam-zam

Sebelum Sai disunahkan minum air Zam-Zam sambil menghadap Kabah. Ketika minum, bernafas 3 kali kemudian sisa air minum diusapkan ke kepala, muka dan dada.

8. Sai

Sebelum ke shafa letakan kembali pakain dengan cara idhthiba’ (bagi laki-laki) dan ketika mendekat shafa bacalah:

Innash-shofâ wal marwata min sya’â-irillâhi, Abda-u bimâ bada Allâh bihi

“Sesungguhanya Shafa dan Marwah sebagian dari syiar Allah. Aku mulai dengan apa yang dimulai Allah.”

Ketika sampai di Shafa menghadap Kabah dengan mengangkat kedua tangan sambil membaca:

Allahu Akbar 3 x

Lâ ilâha illallahu wahdahu lâ syarîka lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyî wa yumîtu wa huwa ‘alâ kulli syai-in qadîir, Lâ ilâhi illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nasharo ’abdahu wahazamal ahzâba wahdahu

“Tidak ada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagiNya, milik-Nya semua kerajaan dan pujian. Ia yang menghidupkan dan yang mematikan, Ia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah, ditepati janji-Nya, dibela hambaNya dan dikalahkan semua musuh olehNya.”

Bacalah doa ini 3 x kemudian mulai berjalan untuk Sai.

Bagi laki-laki ketika berada diantara dua lampu hijau berjalan cepat (raml) sambil membaca:

Rabbighfir warham wa tajâwaz ‘amma ta’lam innaka antal a’azul akrom, Allâhumma âtina fiddunyâ hasanah wa fil âkhiroti hasanah wa qinâ adzabannâr

“Ya Allah ampuni aku, hapuskan segala dosa yang Engkau ketahui, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Besar. Ya Allah berilah aku kebaikan dunia akhirat dan selamatkan aku dari api neraka.”

Selesai Raml berjalan biasa lagi hingga di Marwah. Ketika sampai di Mawah menghadap kiblat sambil bertakbir dan berdoa seperti di permulaan Sai. Kemudian mulai berjalan kearah Shafa dan be-raml ketika melewati dua lampu hijau.

Sai dilakukan tujuh putaran, antara Shafa dan Marwah dihitung satu putaran dan begitu pula sebaliknya dan sai akan berakhir di Marwah.

9. Tahallul

Selesai Sai kemudian Tahallul dengan menggunting atau mencukur rambut sedangkan bagi wanita hanya mengunting beberapa helai rambut sepanjang ruas jari saja. Ketika mencukur rambut mulailah mencukurnya pada bagian sebelah kanan kepala dan berdoa:

Allâhummaghfir lil muhalliqîna wa lil muqoshirîn

Ya Allah, ampunilah orang yang bercukur dan yang bergunting.”

Mengunting atau memotong rambut boleh dilakukan oleh siapa saja, anak kecil ke orang tua atau sebaliknya, istri kepada suaminya atau sebaliknya. Hendaknya wanita dipotong oleh muhrimnya. Anda menjadi halal kembali dan selesailah umrah anda.

Bermîqât Dari Tan’îm atau Ji’ranah

Selama berada di Mekah dianjurkan untuk memperbanyak umrah.

Sebaiknya semua kesunahan ihrâm dilakukan di hotel termasuk mandi dan berpakaian ihrâm. Sampai mîqât hanya salat sunnah ihrâm dan berniat kemudian kembali lagi ke Masjidil Haram untuk Tawâf, saî dan tahallul.

Umrah ini tidak disunahkan Raml ketika Tawâf.

Tawaf Wada’ Bagi Yang Berumah

Bagi yang berumrah selain di bulan haji, ketika akan meninggalkan kota Mekkah disunahkan melakukan Thawaf Wada. Caranya seperti melakukan Thawaf Sunnah.

Sunnahnya diakhiri dengan shalat sunnat thawaf setelah 7 kali thawaf. Bagi wanita yang berhalangan (haid, nifas dll) tidak disarankan thawaf wada’ dan cukup berdoa di pintu Masjid al-Haram.

Daftar Pustaka

1.   Gayo, H.M. Iwan, 2004, Buku Pintar Haji dan Umrah (Jakarta: Pustaka Warga Negara)

2.    Juzayrî, Abdul Rahman, 1990, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)

3.    Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)

4.    Khurbûthulî, Ali, tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)

5.    Mubarakfurî, Shafiyyurahmân. 2002, Tarikh Makkah al- Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)

6.    Mundzirî, Abdul ‘Adzîm, 1992, Tahdzîb at-Targhîb wa at- Tarhîb. (Beirut: Darul Jail)

7.    Nawawî, Muhyidîn, tt, al-Majmû Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)

8.     _________________ al-Adzkâr (Beirut: Dar al-Fikr)

9.    _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)

10.  Râwah, Abdul Fattâh, 2003, Kitâb al-Îdhâh Fî Manâsik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al- Imdâdiyyah)

11.  Rousydy, Latif, 1989, Manasik Haji dan Umrah Rasulullah s.a.w (Medan: Rimbow)

12.  Sâbiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)

13.  Shihab, Quraish, 2003, Haji bersama M. Quraish Shihab (Bandung: Mizan)

14.  Qudâmah, Ibnu, 1997, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustaphâ al-Bâz)

15.  Qârî, Mulâ ‘Alî, 1998, Irsyad asy-Syârî, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbâs Ahmad al-Bâz)

16.  Zuhaylî, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr)

Tata Cara Haji

Oleh: H.A.M. Ackman. Lc. MSi

 

Hari Tarwiyah

Tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah, sehari sebelum wuqûf) jamaah pergi menuju Mina. Bagi haji qirân atau ifrâd masih dalam keadaan ihrâm ketika pergi Mina. Sedangkan bagi haji Tammatu berihrâm kembali dengan semua kesunahannya seperti yang telah dijelaskan di atas.

Hendaknya shalat zhuhur, ashar, maghrib, isya (8 Dzulhijjah) dan subuh (tanggal 9 Dzulhijjah) semuanya dilakukan di Mina dengan cara qashar tanpa di jamak dan dilakukan berjamaah. Bermalam pada hari tarwiyah hukumnya Sunnah dan bukan termasuk rukun atau wajib, bila ditinggalkan tidak mengapa, tapi sangat dianjurkan untuk melaksanakannya.

 

Wuqûf Di Arafah

Wuqûf berarti diam, hadir dan berada pada bagian manapun dari Arafah, walau seseorang itu dalam keadaan tidur, terjaga, duduk di kendaraan atau di tempat lainnya, berbaring, berjalan, baik dalam keadaan suci dari hadast ataupun tidak misalnya yang sedang haid, nifas maupun junub.

Wuqûf di Arafah merupakan rukun terpenting haji dan tidak sempurna haji seseorang tanpa melaksanakan wuqûf seperti yang ditegaskan Rasullah Saw:

 

“Haji itu (wuqûf di) Arafah”.

 

Waktu Wuqûf

Waktu untuk wuqûf dimulai sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzuhilhijjah (waktu dzhuhur) sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Dan wuqûf dianggap sah bila seseorang hadir di Arafah pada salah satu bagian dari waktu tersebut, baik siang maupun malam. Hanya saja bagi yang memulai wuqûf dari siang hari (setelah zhuhur), maka wajib memperpanjang wuqûf sampai terbenam matahari. Bagi yang berwuqûf di Arafah dalam batas waktu yang ditentukan, berarti telah mendapatkan hajinya, sedangkan yang tidak melaksanakan wuqûf di Arafah, maka batal hajinya.

 

Sunnah-Sunnah Wuqûf

  • Mandi sebelum wuqûfMasuk ke Arafah ketika tergelincir matahari, setelah terlebih dahulu shalat Zhuhur dan Ashar dengan di     jamak taqdîm dan qashar.
  • Imam berkhutbah terlebih dahulu sebelum shalat jamak taqdim dan di qashar, sesudah itu berwuqûf
  • Menghadap kiblat dalam keadaan bersih dan menutup aurat
  • Tidak berpuasa
  • Memusatkan pikiran, menghadirkan hati dan perasaan, khusuk, rendah diri sambil bersungguh-sungguh meminta ampun, dzikir, memperbanyak doa, membaca Al Qur-an baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring sambil mengangkat kedua tangan.
  • Berwuqûf semenjak waktu zawal sampai tergelincir matahari.
  • Mengakhirkan shalat maghrib dan isya dengan cara jamak ta’khîr di Musdalifah.

 

Mabît (bermalam) Di Musdalifah

Mabît di Musdalifah adalah wajib menurut mayoritas pendapat dan bukan rukun, sehingga yang meninggalkan mabît di Musdalifah dikenakan dam. Batasan mabît yang dibolehkan hanya melewati saja atau diam sebentar sampai lewat tengah malam. Tidak disunahkan dalam keadaan suci ketika mabît di Musdalifah dan dianjurkan terus membaca talbiyah, takbir dan tahlil.

 

Sunah-Sunah Wuqûf Di Musdalifah

  • Mandi namun bila tidak menemukan air maka tayamum. Mandi disini karena akan wuqûf di Masy’aril Haram dan karena akan memasuki hari raya kesekon harinya.
  • Menjamak isya dan maghrib dengan cara men-jamak ta’khîr dengan dua kali adzan, baik dilakukan sendiri    maupun dengan jamaah.
  • Memperbanyak ibadah seperti berdoa, membaca Al Qur-an, dzikir dan lainnya
  • Mencari kerikil setelah lewat tengah malam untuk persiapan melempar Jumrah Aqabah dan di hari tasyrîq..Salat subuh di awal waktu dan bertakbir dengan suara keras melebihi bertakbir pada hari-hari lain karena mengikuti amalan Nabi Saw.
  • Berwuqûf setelah salat fajar di Masy’aril Haram (sebuah daerah di Musdalifah) sambil menghadap kiblat.
  • Mendahulukan wanita dan yang lemah lainnya pergi ke mina sebelum fajar agar cepat melempar jumrah Aqabah sebelum tempat ini menjadi ramai. Selain mereka tetap berwuqûf sampai menjalankan salat subuh di Musdalifah.

 

Melempar Jumrah

Melontar jumrah hukumnya wajib, dan yang meninggalkannya harus membayar Dam. Ukuran batu yang dipakai untuk jumrah adalah batu kerikil sebesar biji kacang atau sebesar ruas jari kelingking dan tidak boleh dengan besi, tembaga atau dengan yang lainnya. Batu diambil di Musdalifah atau Mina dan hindari memungut batu di sekitar tempat Jumrah. Dimakruhkan memecah batu dan boleh mencuci batu kerikil berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, bahwasannya beliau mencuci batu kerikil.

 

Mewakilkan Lemparan

Boleh mewakilkan lemparan bagi yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, orang tua atau yang sedang hamil. Mewakilkan ini boleh pada siapa saja dan hendaknya k yang mewakili tersebut melempar dulu bagi dirinya sendiri.

 

Jumlah Batu

Bagi Nafar awwal mengambil 49 batu dan bagi yang mengambil nafar tsânî 70 batu, tetapi disarankan mengambil   lebih.

Yang mengambil nafar awwal mengambil 49 batu:

  • 7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah).
  • 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar tiga jumrah, yaitu jumrah ûlâ, wusthâ dan aqabah.
  • 21 batu (12 Dzulhijjah) untuk melontar tiga jumrah

 

Yang mengambil nafar tsânî memungut 70 batu:

  • 7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah di hari Nahar (10 Dzulhijjah).
  • 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar ketiga jumrah
  • 21 batu (12 Dzulhijah) untuk melontar 3 jumrah.
  • 21 batu (13 Dzulhijah) untuk melontar 3 jumrah.

 

Waktu Melempar

Melempar Jumrah Aqabah pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) bisa dilakukan mulai tengah malam, sedangkan waktu yang utama adalah setelah waktu zhuhur. Talbiyah dihentikan ketika mulai melempar Jumrah Aqabah. Sedangkan waktu yang utama untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyrîq setelah waktu zhuhur hingga waktu fajar. Akan tetapi waktu pagi lebih baik berhubung menjaga keselamatan lebih penting dari pada hanya mengejar pahala sunnah.

 

Nafar Awwal Dan Nafar Tsânî

Nafar Awal yaitu bagi yang melontar jumrah hanya dua hari saja (tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah), dan kembali ke Mekah pada tanggal 12 Dzulhijjah sebelum tenggelam matahari dan tidak melontar pada keesokan harinya (tanggal 13 Dzulhijjah). Sedangkan nafar tsânî yaitu bagi yang melempar sampai tanggal 13 Dzulhijjah dan kembali ke Mekah pada tanggal ini. Kedua macam perbuatan diatas dibolehkan dan bebas memilih salah satunya

 

Menyembelih Kurban

Ada dua macam penyembelihan kurban, yaitu:

Hadyu: ialah menyembelih hewan kurban yang disembelih karena taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dalam ibadah haji dan hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).

Dam: menyembelih kurban karena melanggar salah satu larangan ihrâm baik sengaja atau tidak yang terbagi dua:

  • Dam Nusuk, yaitu dam bagi haji tamattu dan qirân
  • Dam Isâ-ah, yaitu dam bagi yang meninggalkan:
  1. Salah satu wajib haji seperti tidak melempar jumrah, tidak berihrâm dari mîqât, wuqûf yang tidak sampai malam hari, meninggalkan mabît di musdalifah dan Mina atau meninggalkan thawâf wadâ.
  2. Karena melanggar larangan ihrâm selain dari hubungan suami istri contohnya memakai minyak wangi atau memotong atau mencukur rambut sebelum waktunya.

 

Sesudah melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah) bagi mampu hendaknya menyembelih hewan kurban.

 

Tahallul

Sesudah menyembelih kurban maka ber-tahallul dengan mencukur rambut atau bergunting. Mulailah mencukur rambut pada bagian kanan kepala. Bagi wanita hanya menggunting beberapa lembar rambut sepanjang ujung jari pada bagian kanan kepala dan bukan mencukur. Dengan tahallul ini (tahallul awwal) maka halal kembali yang tadinya dilarang kecuali berhubungan badan, dan boleh menggunakan kembali pakaian biasa dan sebagainya.

 

Tawâf Ifâdhah

Kemudian melakukan thawâf Ifâdhah ke Mekah (bila memungkinkan) dengan mengelilingi kabah tujuh putaran dan saî seperti yang telah dijelaskan diatas dan seperti halnya ketika berumrah tanpa mengenakan pakaian ihrâm. Dengan selesaînya thawâf Ifâdhah ini, halal kembali semuanya dan bagi yang tidak mampu boleh menangguhkan thawâf Ifâdhah selama hari tasyrîq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) atau sesudahnya asalkan masih dilakukan pada bulan Dzulhijjah.

 

Perhatian

Jika urutan amalan itu tidak beraturan, misalnya mendahulukan thawâf Ifâdhah kemudian melempar jumrah aqabah sesudahnya, melempar jumrah aqabah kemudian thawâf Ifâdhah ataupun menggunting terlebih dahulu sebelum menyembelih qurban ataupun sebaliknya tidaklah mengapa, karena perbuatan tersebut dibolehkan semuanya.

 

Mabît (bermalam) Di Mina

Mabît di Mina hukumnya wajib menurut pendapat mayoritas ulama dan bagi yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan syara maka diharuskan membayar Dam. Mahdzab asy-Syafi’i sendiri mengharuskan mabît di seluruh malamnya. Dikecualikan bagi orang mempunyai udzur yang dibolehkan syara boleh meninggalkan mabît tanpa membayar dam.

 

Melepar Jumrah di Hari Tasyrîq

Pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah jamaah haji melempar ketiga jumrah yang dimulai dari jumrah ûlâ, kemudian jumrah wusthâ dan terakhir jumrah aqabah. Masing-masing melempar dengan tujuh batu. Setiap selesai melempar jumrah ûlâ dan wusthâ disunahkan berdoa namun setelah lemparan jumrah aqabah tidak disunahkan berdoa. Waktu melempar di hari tasyrîq dilakukan sejak pagi hari hingga waktu fajar dengan limit waktu 24 jam penuh.[1] Bagi yang mengambil nafat awwal lemparan cukup dua hari saja (11 dan 12 Dzulhijjah) dan keluar dari mina sebelum matahari tenggelam. Sedangkan yang mengambil nafar tsanî, mengenapkan lemparan hingga tanggal 13 Dzulhijjah dan keluar dari Mina sebelum matahari tenggelam

 

Tawâf Wadâ

Bagi laki-laki di wajibkan melakukan thawâf wada. Berwudlu terlebih dahulu kemudian thawâf 7h putaran tanpa Raml, Saî atau Tahallul. Diteruskan salat dua rakaat di Maqam Ibrahim, dan berdoa di Multazam.

Wanita yang dalam keadaan haid dan nifas, boleh meninggalkan thawâf wadâ dan tidak dikenakan dam atau kafarat.

 

Referensi

  • Gayo, H.M. Iwan, 2004, Buku Pintar Haji dan Umrah (Jakarta: Pustaka Warga Negara)
  • Juzayrî, Abdul Rahman, 1990, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al-Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)
  • Khurbûthulî, Ali, tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)
  • Mubarakfurî, Shafiyyurahmân. 2002, Tarikh Makkah al-Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)
  • Mundzirî, Abdul ‘Adzîm, 1992, Tahdzîb at-Targhîb wa at-Tarhîb. (Beirut: Darul Jail)
  • Nawawî, Muhyidîn, tt, al-Majmû Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)
  • _________________ al-Adzkâr (Beirut: Dar al-Fikr)
  • _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)
  • Râwah, Abdul Fattâh, 2003, Kitâb al-Îdhâh Fî Manâsik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al-Imdâdiyyah)
  • Rousydy, Latif, 1989, Manasik Haji dan Umrah Rasulullah s.a.w (Medan: Rimbow)
  • Sâbiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)
  • Shihab, Quraish, 2003, Haji bersama M. Quraish Shihab (Bandung: Mizan)
  • Qudâmah, Ibnu, 1997, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustaphâ al-Bâz)
  • Qârî, Mulâ ‘Alî, 1998, Irsyad asy-Syârî, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbâs Ahmad al-Bâz)
  • Zuhaylî, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr)